EVENT

Tetap Kreatif di Masa Pandemi, Sapto Djojokartiko Luncurkan Koleksi Terbaru Spring Summer 2021

Monday, 12/10/2020 13:01 WIB by Niken Pangesti , Facetofeet
Tetap Kreatif di Masa Pandemi, Sapto Djojokartiko Luncurkan Koleksi Terbaru Spring Summer 2021
saptodjojokartiko.com

Girls, nggak bisa dipungkiri lagi kalau wabah Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini sangat mempengaruhi kegiatan masyarakat. Hal ini pun dirasakan oleh salah satu desainer kenamaan tanah air Sapto Djojokartiko. Namun, di tengah keterbatasan pada masa pandemi ini, Ia justru memanfaatkannya untuk menggali kreatifitas supaya dapat menyajikan koleksi terbaru yang terinspirasi dari berbagai adat Indonesia yaitu Sabung Ayam yang berasal dari Bali.

Koleksi terbarunya kali ini pun disajikan dalam format yang berbeda girls. Kalau biasanya setiap koleksi Sapto Djojokartiko akan ditampilkan lewat fashion show, kali ini Sapto Djojokartiko mencoba cara baru yang nggak biasa nih.

Koleksi S/S 21 Sapto Djojokatiko ditampilkan melalui format film pendek yang dapat diakses melalui www.saptodjojokartiko.com dan kanal media sosial @saptodjojokartiko. Disutradarai oleh Reuben Torino, Sapto Djojokartiko mengajak penonton untuk mendalami proses meditasi di masa karantina yang berujung dengan lahirnya koleksi ini. Koleksi yang terlahir di masa pandemi ini, menghadirkan banyak momen untuk merefleksikan diri, perasaan kebingungan, kemarahan yang membutakan namun juga diimbangi dengan semangat dan jiwa kreatifitas yang berlimpah.

“Masa karantina benar-benar seperti menaiki roller coaster bagi para desainer di mana pun termasuk saya. Memikirkan aspek bisnis sekaligus harus konsisten untuk menyelamatkan jiwa kreatif kami karena hidup harus tetap berjalan. Tidak mengherankan bagi introvert seperti saya, memiliki waktu sendiri selama ini benar-benar mengizinkan saya untuk menggali lebih dalam proses kreatif yang sudah lama tidak saya dalami. Lingkungan yang damai dan tenang di dalam rumah saya sendiri ternyata menjadi berkah yang indah. Saya dapat benar-benar fokus dan melakukan hal-hal yang biasanya tidak saya lakukan karena saya tidak punya waktu yang cukup. ” Sapto Djojokartiko menjelaskan.

Dengan menjiwai semua wadah inspirasi yang ditemukan dalam koleksi S/S 21, Sapto Djojokartiko banyak terilhami dari hal-hal yang sebetulnya sudah lama ia kagumi dan sukai, Contohnya seperti penggunaan berbagai jenis lace dengan detail yang rumit menggunakan warna-warna nude yang cenderung lembut dikombinasikan dengan warna plum, fuschia dan terracotta yang elegan. Mayoritas warna yang dapat ditemukan di koleksi ini seperti pink dan juga coral sangat terinspirasi dari keceriaan yang hadir ketika musim panas tiba. Untuk melengkapi detil busana, Sapto Djojokartiko juga menghadirkan warna-warna mencolok seperti merah ke dalam palet utama koleksi ini. Diharapkan dengan hadirnya details tersebut, akan menampilkan unsur elegan yang sangat lekat dengan brand Sapto Djojokartiko selama ini.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

#SAPTODJOSS21 Look 20: This silk gown in Ayam Sawung embroidery in gold and silver thread is paired with an embellished petite bandou, baroque pearl earrings, and Sitta sandals in oyster colorway #SAPTOJO #SAPTOJOPS #SaptoDjojokartiko #MaisonSaptodjojokartiko Image by @davylinggar

Sebuah kiriman dibagikan oleh SAPTOJO (@saptodjojokartiko) pada

 

Sapto lanjut menjelaskan, “Karena keterbatasan dalam bergerak saya harus berfikir kreatif untuk memanfaatkan hal-hal yang dapat saya jangkau di sekitar saya. Saya banyak menghabiskan waktu untuk membaca. Beberapa diantaranya merupakan buku sejarah. Banyak waktu saya habiskan untuk melihat dan mempelajari visual-visual yang menarik perhatian saya melalui buku-buku tersebut. . Salah satunya adalah seni sabung ayam atau yang lebih dikenal dengan istilah “cockfighting” di negara barat. Cukup kontroversial untuk membicarakan perihal proses berkesenian yang satu ini, tetapi saya selalu menganggap hal ini sangat menarik secara visual. Saat ini di Bali tanding sabung ayam sudah dianggap ilegal tapi terkadang masih dipertontonkan khusus dalam konteks spiritual, ”jelas Sapto Djojokartiko.

?

Dalam koleksi ini, “sabung ayam” dan keranjang anyaman diterjemahkan ke dalam detail cross stitching yang kemudian menjadi satu kesatuan khusus yang seluruhnya terbuat dari kain organza yang dipotong secara individu. Cross stitching secara manual dengan tangan terinspirasi dari bentuk tenunan keranjang serta teknik tambal sulam, sulaman berbentuk ayam jago , pola acak yang dinamis dan guratan yang menyerupai sapuan kuas. Palet cerah yang dapat ditemui di koleksi ini juga terinspirasi oleh lukisan sabung ayam. Bertolak belakang dengan koleksi Sapto Djojokartiko sebelumnya yang menghadirkan banyak ornamen dan embellishment, kali ini Sapto Djojokartiko memilih untuk menghadirkan siluet yang lebih dinamis dan bentuk yang cocok untuk dikenakan saat bersantai dirumah dengan narasi yang cukup minimalis.

Untuk memahami seni sabung ayam di Bali — yang dalam bahasa lokalnya disebut tajen — perlu diketahui bahwa praktik tersebut berakar pada keyakinan agama Hindu. Banyak budaya di Indonesia yang mengakui sabung ayam sebagai seni tradisional, tetapi kemudian diangkat menjadi tradisi agama di Bali. Inilah salah satu alasan mengapa setelah dinyatakan ilegal, sabung ayam masih lebih sering dipraktikan di Bali dibandingkan di tempat lain. Di Bali, sabung ayam telah ilegal sejak tahun 1981, tetapi otoritas lokal 'mentolerir' dengan ketat untuk tujuan keagamaan. Sampai saat ini praktek sabung ayam dilestarikan lebih sebagai aktivitas sosial, menyatukan banyak elemen penting dalam kehidupan: hiburan, ekonomi, hobi, adat istiadat, dan kehormatan.

Hal Ini juga diterjemahkan ke dalam bentuk aksesoris yang sengaja dibuat praktis dan fungsional, mulai dari dompet bersulam multifungsi, tas selempang, selendang berbulu dan "selendang", tas maxi tote, anting mutiara dengan gaya barok berbalut teknik macramé, hingga sandal dan selop dengan anyaman rafia dan bentuk bordir yang menyerupai keranjang anyaman.

Membawa konteks kemandirian berkreatifitas ke dunia di tahun 2020, di mana batasan bersosialisasi menghalangi sebagian besar orang untuk sering berkumpul merupakan sesuatu yang sangat puitis untuk dibahas. Di sebuah pertarungan sabung ayam kita dapat melihat kandang anyaman yang dibawa ke arena pertandingan. Visual ini sangat membekas di benak Sapto Djojokartiko. Setelah seluruh penonton berkumpul di arena untuk menyaksikan pertarungan, ayam yang menang bertarung akan kemudian ditempatkan kembali di dalam kendang sebagai simbol kemenangan. Sebaliknya, sebagai masyarakat, kita dituntut untuk tinggal dirumah dan bertarung dengan lawan tak berwujud hingga pada akhirnya kita memiliki kesempatan untuk bersosialisasi dengan damai. Gambaran alur cerita yang bertolak belakang tersebut membuat visual ini memiliki daya tarik tersendiri.

“Saya tahu bahwa masyarakat akan segera beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru. Semoga kedepannya, film pendek ini bisa menjadi kenang-kenangan bagi saya dan semua orang yang terlibat saat kita semua harus berjuang untuk bertahan hidup. Tetapi itu juga harus berfungsi sebagai pengingat bahwa bahkan di masa-masa tersulit sekalipun, jangan pernah membiarkan pikiran Anda mengalahkan Anda. Roda akan selalu berputar, jaga kreativitas tetap hidup karena tanpa itu tidak akan ada yang berarti di dalam hidup ini. ” Sapto Djojokartiko menyimpulkan.

 

Baca juga:

RISING Fashion, Presentasi Desainer Muda Indonesia dan Singapura dalam Industri Mode

Rancangan Desainer Indonesia, 2MADISON AVENUE Kembali Tampil di New York Fashion Week 2021

5 Koleksi Busana Muslim Elegan & Berkelas Karya Desainer Lokal

Strongbow Apple Cider Gandeng Desainer Muda Indonesia Bawa Kebaikan Alam ke Jakarta Fashion Week

Karya Desainer Dijual Mahal, Ini 7 Alasan yang Mendasarinya

Leave a Comment
LATEST NEWS
POPULAR
SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER