EVENT

Supaya Masyarakat Lebih Sadar Mengenai Sampah Tekstil, Sejauh Mata Memandang Gelar Pameran “Sayang Sandang, Sayang Alam”

Wednesday, 10/03/2021 15:03 WIB by Niken Pangesti , Facetofeet
Supaya Masyarakat Lebih Sadar Mengenai Sampah Tekstil, Sejauh Mata Memandang Gelar Pameran “Sayang Sandang, Sayang Alam”
Sejauh Mata Menandang

Pernah nggak sih kita bertanya, kemanakan sampah pakaian bekas yang sudah kita buang? Pada faktanya, sampah tekstil merupakan penyumbah limbah yang sangat besar di bumi ini dan sangat mencemari lingkungan di sekitar kita baik itu di darat maupun di laut lho! Sementara semakin tahunnya pasar industri fesyen terus berkembang sehingga kebiasaan fast fashion semakin digemari masyarakat. Wah! Kalau sudah begini bukan tak mungkin lagi bumi akan dipenuhi oleh sampah tekstil yang sulit terurai! Pastinya nggak mau kan?

Untuk mendukung gerakan cinta lingkungan dari gaya hidup fashion,  Sejauh Mata Memandang (SMM)  berkomitmen untuk menjadi label yang lebih bertanggung jawab. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kesadaran konsumen, disponsori oleh TACO dan Ashta District 8, SMM menggelar pameran yang bercerita tentang darurat sampah tekstil dengan tajuk “Sayang Sandang, Sayang Alam”. Berlokasi di Ashta District 8, SCBD, Jakarta Selatan pameran berlangsung dari 6 Maret – 6 April 2021.

Fakta secara global, industri fast fashion memberikan pilihan kepada konsumen untuk dapat membeli lebih banyak pakaian dengan harga yang terjangkau sehingga mengakibatkan limbah fesyen terus meningkat. Hal ini juga ditambah dengan penggunaan serat sintetis seperti poliester yang merupakan serat plastik dan tak dapat terurai secara hayati. Bahkan, kabarnya membutuhkan waktu hingga 200 tahun untuk dapat terurai! Yang lebih mengkhawatirkannya lagi, sekitar 85% dari sampah tekstil dibuang ke tempat sampah dan laut lho!

Menyikapi hal ini, #sejauhmanakamupeduli menghadirkan beberapa solusi untuk dapat berkontribusi dalam menyelamatkan bumi dari limbah fesyen. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan kesadaran akan kerusakan lingkungan yang telah terjadi, memilih serat alami untuk tekstil, berbelanja lebih sedikit, membeli kualitas yang baik sehingga tahan lama, dan membeli produk dengan konsep daur ulang.

Chitra Subyakto, Pendiri dan Direktur Kreatif SMM menjelaskan “Fakta menunjukan bahwa fesyen merupakan salah satu penyumbang polutan sampah terbesar. 95% sampah tekstil yang terbuang sebenarnya masih bisa didaur ulang (recycle) atau didayagunakan kembali menjadi benda berfungsi lain (upcycle). Sebagai merek fesyen dengan konsep slow fashion, salah satu cara kami mengurangi sampah tekstil, adalah dengan menciptakan sandang dari bahan yang dapat terurai, memanfaatkan sisa kain produksi, melakukan program daur ulang dan modifikasi nilai guna dari kain. Komitmen ini merupakan langkah nyata kami untuk mengajak konsumen membantu menyelamatkan lingkungan kita”.

Bekerja sama dengan Felix Tjahyadi selaku konseptor, pameran ini juga didukung oleh Lynx Films, Mata Studio, Magnifique, Davy Linggar,  Wardah, Pable Indonesia, Syah Establishment, dan Greenpeace sebagai NGO partner. Dengan mengutamakan protokol kesehatan; memakai masker, menjaga jarak, membatasi interaksi, dan menjaga kebersihan tangan pengunjung diberikan berbagai edukasi dan informasi terkait fakta mengenai sampah tekstil.

Pameran “Sayang Sandang, Sayang Alam” terdiri dari beberapa area antara lain; area fakta mengenai sampah tekstil, video informative dan visual hasil kolaborasi dengan Greenpeace, Davy Linggar, Dian Sastrowardoyo, Tulus, Gustika Hatta, dan Mesty Artiariotedjo. Tersedia juga area kotak penyaluran (dropbox) sampah tekstil. Terdapat juga Kios Sejauh menjual produk-produk daur ulang dari sisa bahan produksi dan pakaian bekas. Produk-produk daur ulang SMM cukup beragam seperti; selop, tas serba guna & kondangan, aneka bantal, masker kain, topi, dan koleksi pakaian daur.

Selama pameran berlangsung, SMM juga mengajak masyarakat mendonasikan pakaian untuk didaur ulang dengan cara pakaian yang sudah tidak digunakan bisa dikirimkan ke kotak peduli sampah tekstil selama pameran berlangsung. Pakaian yang sudah tidak layak pakai akan didaur ulang menjadi benang dan kemudian menjadi kain baru dimana gerakan ini SMM bekerja sama dengan Pable Indonesia. Bekerja sama dengan beberapa gerakan, SMM juga mengolah pakaian yang masih layak pakai untuk dipilah dan didayagunakan kembali atau disumbangkan bagi yang membutuhkan, distribusi pakaian tersebut SMM didukung oleh Wardah dan Syah Establishment.

Industri fesyen merupakan salah satu kunci pembangunan ekonomi namun juga penyumbang mikrofiber plastik yang dibuang ke laut. Tentunya hal ini menjadi menjadi tantangan mulai dari produsen, desainer, hingga konsumen. Melalui pameran ini kami mengharapkan dukungan konsumen agar terjadi perubahan yang kita inginkan. “Mewujudkan perubahan ini, SMM berkomitmen sebagian dari penjualan akan disumbangkan untuk mendukung beberapa organisasi melalui kemitraan kolaboratif. Memperkuat dampak dana pada skala global sambil mendukung komunitas lokal di daerah rawan” tutup Chitra. 

Leave a Comment
LATEST NEWS
POPULAR
SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER