FASHION

Yuk, Mengenal Makna dan Sejarah Cheongsam: Busana Wanita Khas Tiongkok yang Cantik

Saturday, 25/01/2020 11:11 WIB by Kennissa, Facetofeet
Yuk, Mengenal Makna dan Sejarah Cheongsam: Busana Wanita Khas Tiongkok yang Cantik
Her World Singapore

Gong xi fa chai! 

Di hari spesial tahun baru Cina ini, yuk kita mengenal lebih jauh tentang busana cheongsam yang identik dengan perayaan imlek dan menjadi ciri khas wanita Tiongkok. 

Cheongsam juga dikenal dengan sebutan qipao. Ini adalah jenis busana yang pas badan, membentuk siluet tubuh wanita dengan sempurna. Cheongsam pertama kali dikenalkan sekitar tahun 1920an di Shanghai, yang kemudian dengan cepat menjadi fenomena fashion dan banyak diadopsi oleh film yang menggambarkan dataran Cina. Sejarah busananya sendiri menandakan bangkitnya wanita-wanita Cina modern di abad dua puluh. 

Cerita di balik Cheongsam sendiri berawal dari kejatuhan dinasti Qing dan munculnya Republik Rakyat Cina di tahun 1912. Di antara 1910an dan awal 1920an, para kaum intelektual Cina mulai bangkit melawan berbagai nilai-nilai tradisional yang selama ini dianut kaum konservatif. Mereka menyebut diri mereka dengan sebutan kaum demokratis dan egaliter dan mulai menganut berbagai paham dan ajaran barat, seperti emansipasi dan pendidikan bagi kaum wanita. 

Saat wanita mulai diizinkan untuk menempuh pendidikan di tahun 1920an, mereka mulai jadi guru dan mahasiswa. Mereka kemudian meninggalkan jubah tradisional yang dulu biasa mereka pakai dan beralih ke cheongsam. Cheongsam dulu asalnya dari pakaian pria, changpao. Shanghai, kota yang terbilang moden dan penuh dengan populasi orang asing, adalah asal mula wanita mulai memakai Cheongsam. 

Cheongsam di awal tahun 1920an dulu modelnya lebih longgar dari yang sekarang, dengan lengan panjang dan lebar. Dengan cepat, cheongsam berubah menjadi busana yang identik dengan kaum wanita urban di area metropolitan seperti Beijing, Shanghai, Hongkong, dan Taiwan. Awalnya cheongsam terbuat dari sutra, jadi pemakainya sering diidentikkan dengan kaum berada. Seiring dengan meluasnya pemakaian cheongsam, busana ini kemudian dibuat jadi lebih merakyat, dengan bahan yang lebih murah. Dalam soal desain, motif sulam bunga-bunganya masih tetap dipertahankan, tapi kemudian motif geometris dan art deco malah lebih populer. 

Beranjak ke tahun 1930 dan 1940an, cheongsam berangsur modelnya berubah. Busana ini semakin menonjolkan sisi feminin wanita. Modelnya jadi semakin ketat dan pas badan, dengan beberapa desain yang lebih "berani", seperti belahan pinggir yang tingginya sampai mencapai paha. Kemudian para wanita kaum urban di tahun 1940an biasa memadukan cheongsam mereka dengan sepatu hak tinggi. Mereka juga semakin kreatif dalam bereksperimen dengan model lengan, kerah, kancing, dan bentuk garis siluetnya. 

Meskipun demikian, sesaat setelah munculnya pemerintahan komunis di Cina, cheongsam kemudian dianggap sebagai pakaian borjuis. Dengan cepat, tren tersebut menghilang dari busana sehari-hari wanita Tiongkok. Di Shanghai sendiri, kota kelahiran cheongsam, jalan-jalannya dipatroli untuk memastikan tidak ada satu orang pun yang memakai busana fashionable. Paham egalitarian yang digagas oleh kaum komunis membuat wanita kemudian memakai tunik yang terdiri dari jaket dan celana panjang, sama dengan busana pria. 

Walaupun begitu, popularitas cheongsam terus bersinar di daerah kolonial Inggris, seperti Hongkong. Di tahun 1950an, wanita-wanita Hongkong memakai cheongsam sebagai pakaian sehari-hari. Di bawah pengaruh fashion Eropa, cheongsam kemudian umum dipakai dengan high heels, clutch kulit, dan sarung tangan warna putih. Film-film Hongkong seperti The World of Suzie Wong (1961) kemudian menjadi awal mula munculnya kontes kecantikan di Hongkong, dan membuat orang-orang mulai mengasosiasikan busana cheongsam dengan Hongkong. Padahal, awalnya busana itu lahir di Shanghai, Cina. 

Di akhir taun 1960an, popularitas cheongsam kemudian meredup. Gaya fashion wanita Hongkong dipengaruhi oleh fashion barat, seperti gaun, blus, dan setelan. Semua baju-baju model barat ini proses produksinya lebih murah dibanding cheongsam, sehingga di tahun 1970an, tidak ada lagi wanita yang memakai baju cheongsam sebagai pakaian sehari-hari di jalanan Hongkong. 

Meskipun begitu, cheongsam tetap menjadi pakaian yang diidentikkan dengan sejarah wanita Cina dan kini menjadi pakaian yang umum digunakan di berbagai penjuru dunia untuk merayakan tahun baru Cina. 

 

Leave a Comment
LATEST NEWS
POPULAR
SUBSCRIBE OUR NEWSLETTER